FORKOM EKS MENWA UI



 
IndeksPortalMilisWebBeritaGalleryCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
PARA ALUMNI DAN ANGGOTA RESIMEN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA SILAHKAN BERGABUNG DI FORUM KOMUNIKASI INI ...
ANDA ANGKATAN APA?
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Real Time Clock

JADWAL SHOLAT
HARI INI
SELURUH WILAYAH INDONESIA





ARAHKAN POINTER KE JAM
UNTUK MELIHAT TANGGAL


THE COSMIC AESTHETICS
12:34:56 07/08/09
09:09:09 09/09/09
11:10:09 11/10/09


Navigasi



[ click to toggle ]

 mencakup situs utama,
 portal, forum, dan blog

 Komunitas
 ForKom EX MENWA UI [ini]
 ForKom Alumni FMIPA UI
 Forum Fisika
 Komunitas 19
 ForKom X SEMPAKA
 KOSTER Indonesia
 dll.

 Perusahaan
 BMW CC Services
 MegaMall BC
 Brilliant GI
 dll.

 Personal
 Achmad Firwany
 dll.

 Internet Presence Provider
 TESQscape

E-MAIL ALUMNI MENWA
DAFtar dan periksa disini
provided and supported by :
powered by :
Latest topics
» TEMU ALUMNI MENWA UI 2014
5/3/2014, 22:11 by suci.pratiwi

» KESAN: Pengalaman Sebagi Perwira TNI
5/10/2013, 17:18 by hanung sunarwibowo

» FOTO: LASARMIL MENWA UI 2010
7/6/2011, 14:57 by roy

» UCAPAN: Selamat Natal dan Tahun Baru
28/12/2010, 11:37 by Administrator

» jual kamera cctv 3G cam cuma 2,35jt aj
21/12/2010, 10:06 by toekang.modem03

» jual modem xtend pengganti supreme hrg terjangkau
21/12/2010, 10:02 by toekang.modem03

» ESAI: Negara Manakah Terkaya di Dunia?
1/9/2010, 01:56 by Administrator

» WEBINFO: Alamat Internet Situs Alumni MENWA UI
23/8/2010, 03:04 by Administrator

» WEBINFO: E-mail Alumni MENWA
23/8/2010, 02:32 by TESQSCAPE

» INTRO: TESQSCAPE
23/8/2010, 02:26 by TESQSCAPE

» LENSA: Pendidikan Bela Negara MENWA UI
23/7/2010, 06:50 by Administrator

» WTS: M1306 Black 300rb + PCI Serial + USB 3.0
20/7/2010, 11:28 by toekang.modem03

» KOSMOS: Semesta Kita Ternyata Hologram Raksasa
22/2/2010, 08:44 by Administrator

» HEBOH: KontroVersi Sekitar Buku "Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century"
11/1/2010, 20:47 by Administrator

» KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin
11/1/2010, 20:41 by Administrator

» KASUS: Cicak VS Buaya | KPK VS POLRI: Skandal Bank Century dan Keterlibatan Para Petinggi Negara RI
11/1/2010, 20:37 by Administrator

» LENSA: 4 Cara Suap Resmi di Indonesia: Militer AS vs Militer RI
4/1/2010, 09:31 by Administrator

» LENSA: KontroVersi MENKES RI: NAMRU-2 Alat Intelijen AS di Indonesia
4/1/2010, 08:33 by Administrator

» LENSA: KontroVersi Kabinet: Rahasia dibalik Bursa Pemilihan Para Menteri SBY
4/1/2010, 08:17 by Administrator

» KONTROVERSI: BALIBO: Pembantaian Lima Wartawan Australia oleh TNI di TimTim
4/1/2010, 07:22 by Administrator

» WTS: WaveCom Terlengkap Buat Server Pulsa
10/12/2009, 11:10 by toekang.modem03

» INFO ALUMNI: Tubagus Haryono Enjoy Urus Hilir Migas
15/10/2009, 06:50 by Administrator

» INFO ALUMNI: Tubagus Haryono Calon Kuat Menteri ESDM?
15/10/2009, 05:26 by Administrator

» INFO ALUMNI: Tubagus Haryono Dianugerahkan Tanda Kehormatan SatyaLancana WiraKarya
15/10/2009, 05:24 by Administrator

» LENSA: OutBound di Lingkungan MENWA UI
8/10/2009, 19:00 by Administrator

» INFOTEK: REAL-KILLER CELLULAR FIREGUN: Senjata Api Pembunuh Berbentuk PonSel
26/9/2009, 15:23 by EE ONE S

» INFOTEK: ANTICRIME CELL STUNGUN: Senjata BelaDiri Kejutan-Listrik Tegangan-Tinggi Berbentuk PonSel
26/9/2009, 14:45 by EE ONE S

» KULTUM: FITHR dan FITHRAH. Apa Ma'na Sebenarnya?
26/9/2009, 13:48 by EE ONE S

» UCAPAN: Selamat 'Iydul Fithri - Mohon Ma'af Lahir dan Bathin
26/9/2009, 07:52 by Administrator

» KULTUM: SHILATURRAHIMI: Kenapa? Untuk Apa? Bagaimana?
26/9/2009, 06:50 by Administrator

» DIKLAT: Terjun | AeroSport: Parachuting + Sky Diving
25/9/2009, 08:34 by Administrator

» LOGO: Forum Komunikasi Alumni MENWA UI
25/9/2009, 08:26 by Administrator

» INFO: Angkatan MENWA UI
22/9/2009, 18:35 by hanung sunarwibowo

» LAPOR: Hanung Sunarwibowo 1987: Calon Tamtama Baru
22/9/2009, 17:38 by Administrator

» INFO: Hari-Raya Lebaran | 'Iydul Fithri 1 Syawal 1430 H = 20 September 2009 M
16/9/2009, 17:49 by Administrator

» NEWS: UI Targetkan Beasiswa Capai Rp 40 Miliar
16/9/2009, 16:58 by Administrator

» LENSA: Wujud Nyata Toleransi Antar Umat Beragama
28/8/2009, 07:26 by Administrator

» DZIKIR: Muslim? Segera Dirikan Sholat. Waktu Tiba. Allah Tunggu Laporan Anda!!!
28/8/2009, 04:50 by Administrator

» ACARA: Buka Puasa Bersama MENWA UI 2009: Sabtu 05-09-09 16:00 WIB
27/8/2009, 20:26 by Administrator

» LAPOR: Arfan. Angkatan Rencong. Salam
27/8/2009, 20:13 by Administrator

» PUASA: Jadwal Sholat dan Imsyak Ramadhan Seluruh Wilayah Indonesia
23/8/2009, 12:27 by Administrator

» NEWS: Jakarta Kembali Diguncang Teror Bom 17-07-09
8/8/2009, 18:16 by Administrator

» INFO: Uang Pecahan Baru Rp 2.000
20/7/2009, 08:24 by Administrator

» UCAPAN: Met UlTah ... ... ...
19/7/2009, 21:38 by Mona Liza

» UNIK: A Very Special Time Forever: 12:34:56 07/08/09
19/7/2009, 06:51 by Administrator

» SERBA-SERBI: Sesal Dahulu Pendapatan. Sesal Kemudian Tak Berguna
18/7/2009, 10:10 by Administrator

» KONFERENSI PERS SBY: INFO BIN: SBY Akan Ditembak Teroris di Kepala
18/7/2009, 10:00 by Administrator

» LAPOR: Lapor Juga: Mona Liza Merpati ...
18/7/2009, 09:51 by Administrator

» LAPOR: Andra. Arjuna 96: Salam Kenal
18/7/2009, 09:49 by Administrator

» LAPOR: Teguh Puji Hertanto. Kobra 88: Perkenalan Diri
18/7/2009, 09:48 by Administrator

Top posters
Administrator (383)
 
uddin_jaya4 (46)
 
EE ONE S (36)
 
ben (29)
 
hanung sunarwibowo (12)
 
Dedy Afianto (10)
 
Chandra Susanto (5)
 
toekang.modem03 (4)
 
Mona Liza (4)
 
TESQSCAPE (2)
 
Statistics
Total 112 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah suci.pratiwi

Total 544 kiriman artikel dari user in 116 subjects
User Yang Sedang Online
Total 17 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 17 Tamu :: 1 Bot

Tidak ada

User online terbanyak adalah 34 pada 4/6/2013, 23:59
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
July 2014
MonTueWedThuFriSatSun
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   
CalendarCalendar
MILIS EXMENWA-UI

Untuk yang sudah bergabung



klik ikon diatas ini untuk
melihat pesan e-mail terakhir!



Untuk yang belum bergabung



klik ikon diatas ini untuk
menjadi anggota milis.
Berita Terkini
UNIVERSITAS INDONESIA


Provided By :
Administrator Forum EXMENWA-UI


Provided By :
Administrator Forum EXMENWA-UI


Provided By :
Administrator Forum EXMENWA-UI
Poll
Anda Angkatan Apa?
WALAWA | SATGASMA
8%
 8% [ 1 ]
Kalong
8%
 8% [ 1 ]
Garuda
0%
 0% [ 0 ]
Rajawali
0%
 0% [ 0 ]
Jaya IV
0%
 0% [ 0 ]
Yudha
0%
 0% [ 0 ]
Ksatria
0%
 0% [ 0 ]
Mandala
8%
 8% [ 1 ]
Elang
0%
 0% [ 0 ]
Kobra
17%
 17% [ 2 ]
Lumba-Lumba
0%
 0% [ 0 ]
Cakra
0%
 0% [ 0 ]
Merpati
0%
 0% [ 0 ]
Kamboja
0%
 0% [ 0 ]
Seroja
0%
 0% [ 0 ]
Pasopati
0%
 0% [ 0 ]
Bima
0%
 0% [ 0 ]
Arjuna
8%
 8% [ 1 ]
Yudistira
0%
 0% [ 0 ]
Kresna
0%
 0% [ 0 ]
Nakula-Sadewa
0%
 0% [ 0 ]
Gagak
0%
 0% [ 0 ]
Rencong
17%
 17% [ 2 ]
Wira Makara
0%
 0% [ 0 ]
Lainnya
33%
 33% [ 4 ]
Total Suara : 12
Internet Banking
Iklan
Share | 
 

 KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3  Next
PengirimMessage
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:25

MENGUNGKAP SKRENARIO DI BALIK KASUS ANTASARI — RANI — NASRUDDIN

KILAS BALIK : FAKTA ATAU FIKSI ANALISA?

fakta di balik kriminalisasi kpk dan keterlibatan sby


alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh "sang sutradara", akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan
Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk "melenyapkan" Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul
Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu
Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk "menghabisi Antasari " adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu "hitam", namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan "alat" untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sampurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus "dipaksa KPK". Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan "terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadap an. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sampoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!



Oleh : Rina Dewreight

sumber :
http://politik.kompasiana.com/2009/11/15/fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby/
http://www.kompasiana.com/search?pg=search&cx=014314690270547682587%3A2a02hxzrgqc&cof=FORID%3A11&ie=UTF-8&q=fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby&sa.x=0&sa.y=0#916



. . .

Skenario Drama Penembakan Nasrudin



Jakarta - Penembakan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen tampak telah dirancang sedemikian rupa. Asmara, pemerasan dan bau anyir darah bercampur baur bak novel kriminal.

"Awalnya AA (Antasari Azhar) tertangkap tangan oleh Nasrudin sedang berkencan di sebuah hotel di Makassar dengan seorang perempuan yang disebut-sebut berinisial Ran (Rani Yulianti)," kata sumber detikcom di kepolisian, Jum'at (1/5/2009).

Sejak kejadian itu, Nasrudin kerap kali mengancam akan membeberkan aibnya ke publik. Nasrudin kemudian memeras AA.

Lama kelamaan, AA merasa jengkel dengan sikap Nasrudin yang sering memerasnya. Akhirnya, AA bercerita kepada SH (Sigit Hario Wibisono) perihal tersebut.

"SH kemudian mempertemukan AA dengan Kombes W (Wiliardi Wizard)," kata sumber.

Untuk mengeksekusi Nasrudin ini diperlukan biaya yang besar, sehingga akhirnya AA meminta bantuan dana kepada SH. SH kemudian memberikan dana sebesar Rp 5 miliar.

Kombes W lalu membantu mencarikan eksekutor melalui Je, seorang pengusaha kelautan. Je dijanjikan akan diberi upah sejumlah uang miliaran rupiah jika bisa membantu mencarikan eksekutor.

Je menyanggupi dan akhirnya bertemu dengan Ed. Ed dijanjikan akan diberi upah Rp 500 juta bila bisa mencari orang yang berani menembak Nasrudin.

Ed lantas merekrut Hen dan Am serta Fran, warga Timor Leste yang pernah ikut perang. Mereka bertiga, termasuk Ed, berperan sebagai pem-back up eksekutor.

"Hen, Am dan Fran mencari eksekutornya," tutur sumber.

Lalu mereka bertemu dengan Dan (eksekutor) dan Her (joki motor). Keenam orang lapangan yang terdiri dari Ed, Fran, Hen, Am, Dan dan Her dibayar Rp 500 juta oleh Je.

"Setiap orang mendapat jatah sekitar Rp 70 juta. Namun, baru diberi Rp 25 juta," kata sumber itu.

Setelah skenario dibuat, barulah tim lapangan mengincar Nasrudin. Tim lapangan sudah mengincar Nasrudin selama 1 minggu sebelum ditembak.

"Mereka survei terlebih dahulu. Tanya-tanya sama caddy di Modernland pulangnya Nasrudin jam berapa," urainya.

Setelah mempelajari kegiatan Nasrudin, tim baru menentukan hari H-nya. Nasrudin akhirnya tewas ditembak pada 14 Maret 2009 sepulang dari main golf. Dari dua kali tembakan, satu tembakan meleset dan satu peluru bersarang di kepalanya hingga membuat Nasrudin tewas pada 15 Maret siang. (mei/nrl)

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2009/05/02/104737/1125039/10/skenario-drama-penembakan-nasrudin



. . .


Kronologi Penembakan Nasrudin



Jakarta - Sehabis main golf, dalam perjalanan pulang Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, ditembak orang tak dikenal. Kejadian tersebut disaksikan oleh salah seorang pekerja galian yang kebetulan berada di tempat kejadian.

Dayo, nama pekerja tersebut, menuturkan kepada detikcom kronologi peristiwa yang dia saksikan dengan mata kepala sendiri tersebut, Minggu (15/3/2009).

Waktu itu, Sabtu (14/3/2009) menjelang pukul 15.00 WIB, dia tengah menjalankan tugasnya selaku seorang pekerja galian. Dia melihat mobil BMW warna abu-abu milik Nasrudin melintas di dekatnya, melewati polisi tidur.

Ketika mobil itu sedang melambat karena ada polisi tidur, mendadak dari belakang sebelah kiri menyusul sebuah sepeda motor Yamaha Scorpio yang ditunggangi 2 orang. Keduanya berjaket hitam dan berhelm.

"Saat itulah tiba-tiba terdengar suara tembakan 2 kali," ucap Dayo saat ditemui di lokasi kejadian di Jl Raya Metropolis Modernland, Tangerang, Banten.

Begitu terdengar suara tembakan, sepeda motor itu langsung ngebut ke arah Metropolis. Mobil pun langsung berhenti. Saat itulah sopir melihat Nasrudin sudah terkulai dengan kepala bermandikan darah dan tubuh kejang-kejang.

"Sopirnya panik lalu minta tolong," ucap Dayo.

Mendengar teriakan sopir, warga sekitar pun lantas berdatangan. Mereka berkerumun di sekeliling mobil. Tak lama kemudian petugas kepolisian mendatangi lokasi. Setelah itu korban dilarikan ke RS Mayapada. (sho/nrl)

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2009/03/15/144007/1099659/10/kronologi-penembakan-nasrudin



. . .


Nasrudin "Jual" Rani ke Antasari

Pengganti Biaya Proyek Tambang di Sulsel, Sigid Suplai Eksekutor Rp 2 M


JAKARTA -- Ketua Bidang Perlindungan Hukum Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan) Edwin Partogi mengatakan, pihaknya sudah memiliki data-data keterkaitan antara Antasari Azhar (AA), Sigit, dan algojo pembunuh Nasrudin.

Menurutnya, hingga saat ini Kontras hanya bersikap memback-up tim kuasa hukum keluarga korban dalam melakukan upaya penyelidikan kasus pembunuhan itu.

Dikatakan Edwin, tim kuasa keluarga korban mendatangi pihaknya untuk meminta dukungan moral dan teknis hukum dalam pekerjaan tim kuasa hukum keluarga korban. Kami menyepakatinya. Intinya kami tetap independen tapi juga mendorong kepolisian agar tetap profesional, bekerja sesuai jalur dalam penanganan proses hukum," ujarnya.

Dibeberkannya, informasi yang diperolehnya diketahui kalau sebelum pembunuhan itu korban sempat meminta sejumlah uang kepada Antasari untuk pengadaan sebuah proyek tambang di kawasan Sulawesi Selatan. Disebutkan nama proyek yang sedang digarap korban dilakukan PT Ronggolawe di Makassar Sulsel. "Kebetulan antara korban dan AA sudah berteman lama," tukasnya.

Namun permintaan itu tak kunjung dipenuhi Antasari. Korban pun akhirnya menyodorkan Rani yang saat itu sudah dinikahinya secara siri kepada AA. Rupanya AA pun "kecantol" hatinya melihat kemolekan Rani.

Hubungan asmara pun terjalin antara wanita kelahiran 1 Juli 1986 itu dengan AA. Sampai akhirnya, korban menjebak AA dan Rani di sebuah hotel di Jakarta. Saat itulah korban kembali "menekan" AA baik secara lisan, by phone maupun via SMS agar AA mengabulkan permintaanya itu.

AA yang sudah kelelahan menghadapi korban akhirnya "curhat" kepada kawan dekatnya seorang pengusaha muda nan sukses yang juga politisi PKB versi Gus Dur, yakni Sigid Haryo Wibisono. Begitu mendengar masalah konco dekatnya itu, Sigid menghubungi kawannya yakni Kombes Pol Wiliardi Wizard yang dikenalnya semasa menjabat Kapolres Jakarta Selatan (2005-2007).

"Saat itu SHW (Sigid Haryo Wibisono, red) memberikan WW (Wiliardi Wizard) uang Rp 2 miliar. Sebagian uang itu yakni sebesar Rp 500 juta akan diberikan kepada lima eksekutor dengan bagian masing-masing Rp 100 juta.

Tapi WW baru menyerahkannya separuh atau Rp 250 juta. Dengan uang itu, para eksekutor mengadakan senpi dan pelurunya, sewa motor dan mobil termasuk biaya survey dan escape," terangnya.

Namun, Edwin mewanti-wanti agar keterangan yang dikantungi pihak Kontras agar dijadikan pula oleh pihak kepolisian sebagai bahan pertimbangan penyidik dalam mengungkap kasus tersebut. Sementara itu, sebuah sumber di PMJ menyebutkan 5 alogojo eksekutor Nasrudin yang sudah diamankan terdiri dari 1 anggota polisi dan 4 preman bayaran. Selain itu, Sigid juga sudah ditahan di PMJ.

Antasari Temukan Adanya Skenario Sistimatis Jatuhkan Reputasinya

Sebutan tersangka yang disampaikan Kejaksaan Agung terhadap Ketua KPK Antasari Azhar, terkait kasus penembakan Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen mulai mendapatkan perlawanan.

Para kuasa hukum, Antasari Azhar yang juga mewaliki keluarga Antasari menilai perubahan status yang diakukan Kejaksaan Agung merupakan bukti adanya skenario sistematis. Dengan target menjatuhkan reputasi Antasari Azhar yang telah berhasil mengungkap banyak kasus korupsi.

Tak hanya itu saja, para kuasa hukum Antasari juga menyayangkan beberapa opini yang beredar di masyarakat. Terkait status saksi yang belum dipahami masyarakat tersebut. Akibatnya terjadi penyesatan informasi yang merugikan Antasari dan keluarganya.

"Sebutan itu pun membuat proses hukum terkesan diabaikan. Tak selayaknya lembaga yang dinyatakan mengerti hukum melakukan tindakan tersebut. Saya bukan tidak menghargai pendapat lembaga itu, tapi sewajarnya itu tidak terjadi," jelas koordinator kuasa hukum Antasari Azhar, Juniver Girsang di kediaman Antasari, kemarin.

Ditegaskannya penyebutan status tersangka tersebut jelas hanya dapat dilakukan lembaga penyidik. Dalam hal ini kepolisian. Namun belum ada perubahan status dalam penyelidikan kasusnya terdahap Antasari. Ini berarti tidak ada lembaga lain yang boleh mengubah status Antasari dari saksi menjadi tersangka.

Menurutnya penyebutan status tersangka tadi merupakan kegabahan lembaga tersebut. Belum ada bukti yang menyatakan Antasari sebagai tersangka. Bahkan pemanggilan pertamanya pun masih baru dilakukan Senin mendatang. "Lagi-lagi itu sebagai saksi, bukan tersangka pemanggilannya," ungkapnya sambil menunjukan kembali surat panggilan itu.

Terkait penyebutan status tersangkat, dia meyakini adanya upaya memupuskan figur Antasari yang sudah dipercaya publik. Dengan kinerja lembaga KPK yang begitu bekerja optimal. Kinerja tersebut yang mungkin membuat ketidakpuasan sekelompok orang.

Didesak terkait skenario sistematis itu, Juniver Girsang menjelaskan sebagai langkah yang dilakukan kelompok orang yang memiliki kekuatan untuk tindakan tersebut. Namun menolak menyebutkan adanya keterlibatan pejabat negara dalam skenarion sistematis tadi. "Saya tidak sebut ada orang. Tapi nyatanya arah penyebutan tadi terlihat indikasi skenario tersebut," ucapnya.

Sebagai upaya membuktikan adanya skenarion tadi, dia bersama tim kuasa hukum Antasari telah mengumpulkan bukti-bukti. Bahan bukti tersbut bakal disampaikan dalam pemanggilan di Polda Metro Jaya. Sekaligus membantah keterlibatan dirinya dalam penembakan Nasarudin Zulkarnaen.

Ditambahkannya tuduhan melakukan dan terlibat dalam pembunuhan berencana atas Nasarudin Zulkarnaen tidaklah benar. Apalagi adanya hubungan dengan Rani Juliani juga dibantahnya. "Kita buktikan saja di pemeriksaan besok. Semua bakal semakin jelas," ungkapnya.

Dari kediaman Antasari Azhar suasananya tetap sepi. Tamu yang datang tidaklah banyak. Hanya kolegan dari pengacaranya saja. Dalam perbincangan para tamu itu mengarah pada pembentukan tim kuasa hukum. "Sekarang saya sudah ditunjuk sebagai koordinator. Masih kita godok tim pengacaranya. Kan musti yang berkualitas untuk tangani kasus ini," terang Juniver Girsang.

Kesehatan Antasari juga mulai membaik. Flunya tidak lagi banyak menggangu. Diharapkan tidak ada kesulitan saat mengikuti pemeriksaan awal di Polda Metro Jaya nanti. Begitu pula kondisi kesehatan anak dan istrinya, semuanya dalam kondisi baik. (rko)

Sumber:
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=60324
Minggu, 03-05-09 | 02:26



. . .


Pembunuhan Nasrudin Dikaitkan ke Skandal Century



Jakarta - Hiruk pikuk kasus bailout Bank Century membuka kesempatan untuk menghubung-hubungkannya dengan berbagai kasus lain. Tidak terkecuali terhadap kasus pembunuhan Nasrudin Zulkaren yang membuat Antasari Azhar lengser dari posisi Ketua KPK.

Penghubungan dilakukan Heri Santoso, satu dari empat terdakwa eksekutor pembunuhan Nasrudin. Ini terjadi dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Tangerang, Kamis (3/12/2009). Agenda sidang adalah pembacaan tuntutan penjara seumur hidup ditutup.

"Ini semua rekayasa, ada pesanan petinggi negara. Sudah jelas ini bermuara pada Century," teriak Heri ketika meninggalkan ruang sidang.

Mendengar teriakan tersebut, wartawan spontan memburu Heri yang tengah digiring polisi kembali ke mobil tahanan. "Siapa petinggi negara itu?" tanya wartawan.

"Saya tidak berani bicara. Anda sudah tahu siapa yang saya maksud," jawab Heri.

"Tahu dari mana ini berhubungan dengan Century?" kejar wartawan.

"Saya sudah lama tahu," balas Heri sambil memasuki mobil tahanan.

Karena tidak mungkin lagi bertanya pada Heri, wartawan langsung mengejar Emmanuel Wanggae, pengacara terdakwa. Tapi dia mengaku juga tidak tahu menahu di mana hubungan antara kasus pembunuhan Nasrudin dengan bailout Century.

"Kita tidak tahu itu," jawab Emmanuel.

Ketika pembunuhan berlangsung, Heri mengemudikan sepeda motor memboncengkan Daniel Siabon yang bertugas menarik pelatuk pistol. Anggota lain kelompok ini adalah Franciscus Padonkoan, Hendrikus Kia Walen dan Eduardus Ndopo Mbete yang juga dituntut hukuman seumur hidup.

(lh/iy)

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2009/12/03/165256/1253595/10/pembunuhan-nasrudin-dikaitkan-ke-skandal-century
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:28

MENGUNGKAP SKRENARIO DI BALIK KASUS ANTASARI — RANI — NASRUDDIN

KILAS BALIK : ANTARA FAKTA DAN FIKSI ANALISA

Kasus KPK dan Fiksi "Ceroboh" Rina Dewreight



Rina… oh Rina… Saat pertama kali membaca artikel yang ditulis Rina Dewreight (entah nama nyata atau fiktif), terus terang saya menyukai alur tulisan dan gaya bahasanya. Dengan judul yang lumayan provokatif, “Fakta di Balik Kriminalisasi KPK dan Keterlibatan SBY”, Rina mampu menulis sebuah kasus hukum yang njelimet, dengan gaya bahasa ringan dan renyah. Saya mengira Rina adalah seorang profesional di bidangnya. Saking sempurnanya tulisan itu, kita jadi sulit membedakan, mana fiksi, mana fakta. Mana realitas, mana opini. Kalimat pertama yang menjadi pengantar opininya cukup tendensius. “Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK”, katanya. Statemen tersebut sejak awal menunjukkan penghakiman si penulis dan pemihakan tendensius tanpa data dan fakta memadai. Ia secara “cantik” melanjutkan “novelnya” ini dengan “menyerang” tokoh besar atau apa yang ia sebut sebagai “sang sutradara”—dalam hal ini Presiden SBY—sebagai aktor di belakang kasus Antasari dan KPK, lengkap dengan Kapolri dan Jakgung sebagai pemeran pembantu. “Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk ‘melenyapkan’ Antasari”, lanjut Rina. Satu kutipan Rina lagi, “Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari”. Sebagai karya tulisan, apa yang dilakukan Rina ini cukup menggoda pembaca untuk menengoknya. Sayangnya tak banyak data yang mendukung konstruksi ini sehingga tulisan ini hanya “indah” dilihat tapi “kosong” substansi.

Tak hanya itu, apa yang ditulis Rina hampir semuanya bersifat spekulasi dan bahkan fitnah. Mau bukti? Tuduhan bahwa Hendraman Supanji saat menjadi Jampindsus gemar menangkapi Kepala Daerah dari yang dekat dengan PDIP tak berdasar. Faktanya, Hendarman tak hanya menangkap koruptor-koruptor berlatarbelakang politisi, tetapi juga banyak kasus lain. Beberapa diantaranya, kasus korupsi Gelora Bung Karno (GBK), kasus Bulog Jatim, PT Lativi Media Karya dan PT Artha Bhama Texindo. Tak ada satu pun nama pejabat yang menjadi tersangka di lembaga-lembaga tersebut yang dekat dengan PDIP. Kebohongan lain, masih terkait Hendarman, saat ia menjabat Jakgung. Rina secara ceroboh menulis tanpa data bahwa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) menjadi kendala penegakan hukum oleh Jakgung, karena melibatkan pengusaha kelas kakap dan penguasa (dalam hal ini Presiden SBY). Padahal semua orang tahu bahwa pengusutan kasus BLBI pada awal 2000-an hampir menapaki jalan baru dan kemajuan berarti. Sayangnya, Presiden Megawati waktu itu justru mengeluarkan kebijakan penghentian pengusutan, melalui Inpres No.8 Tahun 2002, atau dikenal sebagai Release and Discharge (R & D). Kebijakan ini merupakan “ampunan” Mega kepada obligor hitam yang diatur dalam MSAA (Master of Acquisition and Agreement). Masih terkait BLBI, Rina juga menyebar fitnah lain bahwa, “Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI, dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK”. Secara logika, tuduhan tersebut sangat tidak masuk akal, mengingat pihak yang memutus kasus BLBI adalah Megawati.

“Novel” Rina ini tak berhenti menyebar kebohongan di situ. Pada kasus aliran dana ke Partai Demokrat (PD), Rina menulis, “Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Partai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY”. Sebagaimana kita ketahui, Eddy Baskoro (anak SBY) tidak pernah masuk sebagai anggota Tim Sukses SBY-Boediono. Ia juga bukan caleg nomor urut 1 di Dapilnya, melainkan nomor urut 3, yang mengindikasikan bahwa di PD, Ibas—panggilan akrabnya—bukanlah tokoh utama di partai. Kelucuan lagi terkait Djoko Suyanto, yang ditulis sebagai Bendahara Tim Sukses SBY. Mungkin Rina tak baca koran selama pemilu 2009 lalu. Semua orang tahu bahwa Djoko adalah Wakil Ketua Tim Sukses SBY, sementara Ketua Tim adalah Hatta Rajasa. Mengenai Hartati Mudraya yang disebut sebagai Bendahara PD, juga ngawur. Rina tak melakukan cek and ricek terlebih dahulu, sehingga hal-hal sepele semacam ini masih juga salah. Padahal untuk mengecek nama Hartati, kita cukup masuk ke situs PD dan lihat di sana, ada atau tidaknya nama Hartati. Sebagaimana susunan DPP di situs PD, nama Hartati Murdaya sama sekali tak tercantum, baik di pos Bendahara maupun Wakil Bendahara. Sekali lagi, tulisan ini hanya enak dibaca dan bikin geli.

Bagaimana soal Bibit-Chandra menurut tulisan Rina? Ia secara spekulatif mengatakan bahwa SBY sangat khawatir dengan keberadaan Bibit-Chandra yang “tahu banyak” alur dana Bank Century. Rina juga menduga secara ceroboh dana Century digunakan untuk membiayai kampanye PD dan SBY pada Pilpres 2009. Padahal tak sulit menemukan fakta mengenai sikap SBY atas kasus Century. Sudah sejak awal SBY menegaskan bahwa kasus Century harus dibuka “lebih cepat lebih baik”. Ia bahkan mempersilahkan dan mendukung DPR yang akan meminta keterangan kepada Wapres Boediono (saat itu Gubernur BI) dan Sri Mulyani (Menkeu). SBY mendorong keduanya untuk pro aktif dan bicara fakta-fakta mengenai Century di DPR. Logikanya, jika SBY tersangkut Century, atau aliran dana tersebut abu-abu, maka ia akan menghambat pemanggilan anak buahnya oleh DPR. Sebab pemanggilan tersebut dapat berpotensi “penelanjangan” SBY sendiri. Buktinya SBY justru mendorong anak buahnya untuk tampil dan menjelaskan ke publik secara gamblang. Fakta lain makin melebarkan jarak SBY dengan kasus ini. Karena pada saat pencairan dana dari LPS ke Century, SBY sedang bertugas di luar negeri. Saat itu Menkeu Sri Mulyani sudah melaporkan ke Wapres, Jusuf Kalla.

Duduk perkara Century sejatinya sudah cukup jelas. Dimana, Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Sistem Keuangan mengamanatkan langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah, yaitu Menteri Keuangan, bersama Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Saat ini kasis aliran dana Century sebesar Rp. 6,7 triliun telah masuk ranah politik melalui rencana anggota DPR mengajukan hak angket Century. Selain juga, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga tengah melakukan audit terhadap proses bailout tersebut. Padahal sejumlah pengamat ekonomi sepakat bahwa kucuran dana Century sudah sesuai standard operational procedure (SOP). Sumber dana untuk Century yang selama ini menjadi perdebatan—karena dianggap “uang rakyat” dari APBN—juga sudah terbantahkan. Sebagaimana data BI, sampai saat ini Bank Indonesia tidak pernah menggunakan Fasilitas Pendanaan Darurat (FPD) ataupun menggunakan dana APBN. Dana Century semuanya berasal dari LPS dan sudah sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Adapun penggunaan dana suntikan bagi Bank Century didasarkan atas keputusan rapat pada tanggal 23 November 2008 lalu yang dilakukan antara Bank Indonesia dengan LPS serta Menteri Keuangan.

Sayangnya “novel” Rina tak menggunakan data yang benar, sehingga aliran cerita yang muncul ke publik pun hanya dipenuhi berbagai spekulasi tanpa justifikasi. Padahal di alam demokrasi, publik berhak mendapatkan informasi yang benar dan berimbang. Rina… oh Rina… sayangnya hanya Tuhan dan Kompasiana yang tahu siapa dirimu dan apa maumu. ***



Musawwa Munaf

Sumber:
http://politik.kompasiana.com/2009/11/19/kasus-kpk-dan-fiksi-%E2%80%9Cceroboh%E2%80%9D-rina-dewreight/
19 November 2009 | 16:16
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:29

Nasrudin Pernah Ingin Laporkan Antasari ke SBY



JAKARTA (Pos Kota) – Nasrudin Zulkarnaen Iskandar pernah berniat melaporkan Antasari Azhar pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena tidak terima atas perlakuan mantan ketua KPK itu terhadap pelecehan istrinya, Rani Juliani.

“Namun niatnya diurungkan.” kata saksi Jefri Lumampau pada Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

Jefri Lumampau adalah seorang pengacara yang kenal dengan korban karena sering bermain golf di sejumlah tempat. Menurut saksi ketika usai bermain golf di Pondok Indah, tiba-tiba saksi melihat korban melaksanakan salat dengan sangat khusyuk,”Tumben kamu salatnya khusyuk sekali, ada apa?” kata Jefri kepada Nasrudin.

“Gimana saya nggak khusyuk, saya baru ada masalah.” jawab korban saat itu. Korban lalu menunjukkan SMS yang ada di handphone korban. Pesan itu katanya berasal dari Antasari dan berbunyi,”Masalah ini hanya anda yang tahu, jika diblokir tahu konsekuensinya.” tuturnya.

Saksi menanyakan kepada korban siapa Antasari dan dijawabnya Ketua
KPK. Atas masalah tersebut, saksi mengajak korban untuk membicarakan masalah tersebut di kantor saksi. Namun hingga Nasrudin meninggal dunia pertemuan dengan pengacara Yan Apul, belum pernah terlaksana.

Saksi mengetahui korban meninggal setelah membaca koran,”Saya shock, hanya gara-gara SMS kok teganya korban dihabisi nyawanya” ujar Jefri. (Winarno/B)

Sumber:
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/11/24/nasrudin-pernah-ingin-laporkan-antasari-ke-sby
Selasa, 24 November 2009 - 11:23 WIB
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:30

Jeffry: Nasrudin shalat habis judi golf


JAKARTA - Persidangan kasus dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen Iskandar memang cukup menyita perhatian publik. Pelan-pelan lika-liku kehidupan baik para terdakwa maupun korban mulai terkuak.

Setelah di awal-awal sidang, publik dikagetkan dengan pelecehan seksual Antasari Azhar terhadap Rani Juliani. Kini fakta baru terkuak dari perilaku, suami siri Rani, Nasrudin sebagai korban.

Nasrudin ternyata gemar main judi golf, begitulah isi pokok dari kesaksian Jeffry Lumampaw, sahabat Nasrudin saat sidang lanjutan atas terdakwa Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tadi siang. Dia mengaku sering bermain golf bersama dan taruhan.

"Pokoknya saya bermain, (dan) taruhan," kata Jeffry. Keduanya pernah bermain di lapangan golf Pondok Indah, Jakarta Selatan. Namun begitu, yang menjadi ironis adalah meski sering berjudi, shalat pun masih berlanjut.

"Jadi, main golf itu sambil taruhan. Lalu mengapa masih salat dengan khusyuk segala?" tanya Assegaf, salah satu anggota tim pengacara Antasari kepada Jeffry.

"Justru itu Pak karena membuat dosa di lapangan golf, supaya dosa bisa dikurangi. Kalau kita berdosa, terus enggak shalat lebih parah lagi," jawab Jeffry.

Assegaf pun bertanya kembali, “Supaya Allah korting dosanya? Iya Pak, kan yang nilai dosa besar-kecil Allah. Saya shalat supaya menang," ujar Jeffry.

Jeffry menceritakan kejadian itu ketikan dirinya bertemu Nasrudin pada Februari 2009 di masjid seusai main golf di Pondok Indah. Kala itu, setelah shalat Nasrudin menunjukkan pesang pendek (Short Message Service) kepada Jeffry yang isinya, Antasari mengancam Nasrudin.

Namun, Antasari membantah pernyataan Jeffry terkait pesan tersebut. "Kami keberatan SMS dari Antasari," ujar mantan Ketua KPK itu.

Kasus pembunuhan Nasrudin menyeret sejumlah nama pejabat seperti Antasari Azhar, mantan Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Williardi Wizar, serta dua pengusaha yaitu Sigid Haryo Wibisono, dan Jerry Hermawan Lo.

Nasrudin ditembak usai bermain golf di Padang Golf Modernland, Cikokol, Tangerang, sekitar pukul 14.00, Sabtu 14 Maret 2009. Ia tewas sekitar pukul 12.10 hari berikutnya, di RSPAD, Gatot Soebroto Jakarta, dengan dua peluru bersarang di kepalanya. (dat07/wol-mdn)

Sumber:
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=68931:jeffry-nasrudin-shalat-habis-judi-golf&catid=17:nasional&Itemid=30
24 November 2009 16:10
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:34

Antasari: Saya atau Nasrudin yang Mati

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia
Ina Susanti, analis data KPK, sedang memberikan kesaksian dalam sidang Antasari Azhar di PN Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

JAKARTA, KOMPAS.com — Kegelisahan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar karena mendapat teror dari Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dan istrinya, Rani Juliani, sempat dibawa juga ke lembaganya. KPK sempat menyadap telepon Nasrudin. Hal tersebut diungkap oleh Ina Susanti, Analisis Informasi KPK. "Saya melakukan analisis penyadapan telepon Nasrudin Zulkarnaen," kata Ina saat bersaksi dalam sidang Antasari di PN Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

Menurut Ina, ada lima nomor Nasrudin yang disadap. Kuasa untuk melakukan penyadapan setelah ada surat perintah penyadapan yang ditandatangani oleh Wakil Ketua (nonaktif) KPK Chandra M Hamzah. Hasil penyadapan menunjukkan, Nasrudin tidak melakukan tindak pidana korupsi. "Setelah dua minggu saya analisis, tidak ada muatan yang mengarah pada tindak pidana korupsi," ujar Ina.

Hasil tersebut, katanya, disampaikan Ina kepada pimpinannya, Direktur Informasi dan Data KPK Budi Ibrahim. Karena tidak ada pelanggaran hukum, Ina mengusulkan supaya "kasus" ini tidak dilanjutkan. Kemudian ia bertemu Antasari di ruangnya bersama Budi. "(Di ruangan itu) saya diperlihatkan print out dari Pak Antasari. Sekilas. (Ada) Tiga gambar, (yakni) rumah, mobil serta, laki-laki dan perempuan berdampingan," tuturnya.

Dalam pertemuan itu, Ina mengaku, Antasari sering keluar-masuk ruang kerja Wakil Ketua (nonaktif) KPK Bibit S Rianto karena saat itu Bibit sedang sakit. Ina pun hanya sebentar di rungan itu. Namun, ia sempat mendengar Antasari kesal dengan Nasrudin. "Pak Antasari bilang, saya atau dia yang mati," ungkapnya.

Selain itu, ia juga mendengar Budi menyarankan Antasari untuk tidak usah menanggapi Nasrudin. "Enggak level," kata Budi seperti dikutip Ina.

ONE

Editor: Edj

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/24/14340479%20/antasari.saya.atau.nasrudin.yang.mati
Selasa, 24 November 2009 | 14:34 WIB
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:35

Rani Dapat Warisan Kalau ... [1]


alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia
Rani Juliani, istri almarhum Nasrudin Zulkarnaen (kanan), memasuki ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/11). Dalam sidang tersebut, bersama Suparmin yang adalah sopir Nasrudin, Rani dikonfrontasi tentang keterangan mereka yang berbeda. Konfrontasi dipusatkan pada kedatangannya di Hotel Grand Mahakam, Jakarta.

BUKAN sekali-dua adik kandung mendiang Nasrudin, Andi Sjamsudin, minta pada pengacara Rani Juliani agar mereka dipertemukan. “Tapi tak kunjung diberi akses. Aneh, Rani selalu mengaku sebagai istri kakak saya, tetapi dia tidak berusaha dan punya niat untuk menemui saya atau keluarga di Makassar. Bila dia takut atas keselamatannya, kan, ada pengawal. Dia bisa datang ke Makassar dengan pengawalan. Keluarga kami akan menerima dia karena saya yang akan mengatur ke dalam. Saya ini saudaranya Nas. Bila benar dia istri sah kakak saya, bukankah kami kakak-adik ipar?”

Andi hanya ingin bertemu empat mata dengan Rhani. “Kalau bertemu empat mata, ceritanya akan beda. Siapa tahu dia dapat hidayah dari Allah SWT lalu bercerita sejujurnya semua yang menimpa kakak saya.”

Jika keinginannya bertemu kesampaian, apa yang ingin disampaikan Andi? “Mau saya tanyakan ke dia, apa benar telah menikah dengan kakak saya? Kapan dan siapa saksinya? Adakah keluarga atau teman dekat almarhum yang datang? Sekian lama menikah dengan kakak saya, tapi tidak mencoba menghubungi keluarga. Bukankah kami ini bagian dari keluarga Nasrudin?”

Andi juga ingin bertanya pada Rani soal pertemuan di Grand Mahakam. “Bagaimana, sih, cerita yang sebenarnya? Siapa yang lebih dulu kenal dengan Antasari? Rani atau Nas?” Yang lebih aneh, lanjut Andi, sehari setelah abangnya terbunuh, “Rani langsung diamankan polisi. Dia juga lebih lancar bersaksi di depan polisi dan persidangan, tapi ke saya tidak mau bercerita. Ada apa ini? Siapa, sih, sebenarnya Rani?”

Pernah, kata Andi, ia mendatangi rumah Rani di Panunggangan. “Tapi Rani dan orangtuanya sudah tidak tinggal di sana.” Di persidangan, saat Rani dan ayahnya hadir sebagai saksi, Andi memang tak menghampiri Rani. “Kalau dibilang saudara ipar, umur saya lebih tua. Dia yang seharusnya datang ke saya. Lagipula, dia itu siapa?”

Percayakah Andi bahwa Rani sengaja “diumpankan” Nasrudin untuk Antasari? ”Saya membantah hal itu. Pertanyaan saya, apakah mungkin seorang istri Nasrudin diumpankan untuk pria lain? Apa yang diharapkan? Itu tidak mungkin! Istri kita dilirik orang agak lama saja, kita ini sudah bagaimana, gitu. Terlebih disuruh ke dalam kamar.” (Bersambung)



Editor: aegi

Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/20/14565091/rani.dapat.warisan.kalau....1
www.tabloidnova.com
Jumat, 20 November 2009 | 14:56 WIB
Laporan wartawan NOVA Rini Sulistyati
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:37

Rani Dapat Warisan Kalau ... [2]

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia
Rani Juliani saat bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/11).

KALAUPUN benar Rani istri Nasrudin, meski siri, "Perkawinan itu sah menurut hukum agama, tapi memerlukan saksi. Bila pun benar, kami tidak bisa meniadakan dia. Dia juga berhak atas warisan Nasrudin dan harta gono-gini seperti istri pertama dan keduanya yang mendapat warisan. Antara lain, berhak atas rumah yang mereka tinggali. Saya akan memfasilitasi."

Diungkapkan Andi, sepeninggal Nasrudin, BUMN di mana saudaranya itu bekerja, belum memberi uang santunan kematian, asuransi, dan gaji yang menjadi hak Nasrudin. “Kami sudah mengurusnya, tapi mereka bilang akan bermasalah. Sebab, kasusnya masih berjalan. Mereka bingung akan dicairkan untuk istri pertama, kedua, atau bagaimana?”

Kehidupan dua istri Nasrudin kini juga tidak seperti sebelumnya. “Istri pertama, sih, tidak begitu bermasalah karena pegawai negeri. Sementara istri keduanya, belum dapat pekerjaan. Nah, kehidupan keluarga di Makasar yang semula ditanggung penuh oleh Nasrudin, kini jadi beban saya.”

Sementara soal berubahnya kesaksian Wiliardi Wizard di pengadilan, tutur Andi, tak membuat keluarga besarnya bertanya-tanya. “Apa benar, Wili, seorang komisaris besar, mau ditekan atau mengikuti kemauan penyidik yang pangkatnya di bawah dia?” tanya Andi.

Andi yang berprofesi sebagai pengacara menduga, Wiliardi takut pada pasal yang didakwakan dengan ancaman hukuman maksimal mati atau seumur hidup. Adakah perubahan sikap Wili itu untuk saling meringankan hukuman dengan Antasari?

“Bisa saja. Segala kemungkian ada. Bukankah pengacara AA dan pengacara WW bersaudara? Tapi ingat, publik sekarang sudah pintar. Bisa mencerna mana yang benar dan salah. Soal dukungan publik, jangan berharap banyak seperti dukungan untuk Bibit-Chandra. Apa pula maksudnya istri WW langsung roadshow ke berbagai stasiun televisi? Kalau saya roadshow, wajar, dong, karena saya ingin meyakinkan publik, saya ini saudara korban yang sedang berjuang mencari kebenaran.”

Andi dan keluarga besarnya berharap, di akhir sidang akan ketahuan siapa dalang intelektual di balik pembunuh Nasrudin. “Kami bukan mencari siapa yang harus dihukum.” Ibunda Nasrudin di Makasar pun, sudah tak sabar menunggu siapa dalang pembunuh anak kebanggaannya. “Ibu saya sudah sakit-sakitan, sekarang lebih syok lagi. Menagis terus dan bertanya, apa salah anaknya hingga harus dibunuh, siapa pembunuhnya, dan apa kepentingannya anaknya dibunuh? Sementara Nas, kan, bukan petinggi negara.”



Editor: aegi

Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/20/15360432/rani.dapat.warisan.kalau.....2
www.tabloidnova.com
Jumat, 20 November 2009 | 15:36 WIB
Laporan wartawan NOVA Rini Sulistyati
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:39

Antasari Tak Mau Berhenti Sadap HP Rani dan Nasruddin

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia
Rani Juliani.

JAKARTA - Antasari Azhar dan Nasruddin Zulkarnaen diduga terlibat perseteruan pribadi. Mantan Ketua KPK ini disebut memerintahkan penyadapan terhadap nomor telepon genggam bos PT Putra Rajawali Banjaran itu dan istri sirinya Rani Juliani.

"Saya mengetahui pemilik nomor HP dan penggunanya adalah Nasruddin, itu diketahui dari hasil penyadapan berupa komunikasi dua telepon," demikian keterangan BAP Direktur Pengelolaan Informasi dan Data KPK, Budi Ibrahim, yang dibacakan tim jaksa penuntut umum dalam persidangan di pengadilan Jakarta Selatan, Selasa (1/12/2009).

Antasari disebut memerintahkan penyadapan itu dengan surat perintah untuk melakukan penyadapan terhadap lima nomor telepon yang diberikan Antasari. Yang salah satunya adalah nomor Rani Juliani.

Perkembangannya, Antasari menanyakan progres dari penyadapan itu ke Budi Ibrahim dan staf analisis data dan informasi KPK bernama Ina.

Dari situ, Budi mengaku meminta penyadapan dihentikan karena tidak menemukan teror. "Saya mohon penyadapan dihentikan karena menghabiskan waktu dan sepele," ujar Budi dalam BAPnya.Saat Budi meminta penyadapan dihentikan, Antasari mengatakan "Saya, atau dia (Nasruddin) yang mati."

Diungkapkan, Antasari di pertemuan itu mengaku telah meminta bantuan kepada Kapolres Karawang Chairul Anwar sambil menunjukan gambar foto berwarna A4 Nasruddin dan Rani di sebuah bandara.

Foto lain yang ditunjukan yaitu foto mobil BMW Silver, dan rumah Nasruddin. Dia juga menceritakan soal penggerebekan Nasruddin di hotel, oleh tim polisi yang membantu Antasari.

Antasari membantah BAP Budi Ibrahim yang dibacakan tim Jaksa Penuntut Umum. Keterangan itu, menurut Antasari inkonsisten. Persidangan akan dilanjutkan Kamis dengan agenda menghadirkan keterangan saksi lain. (fit)

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2009/12/01/339/280868/antasari-tak-mau-berhenti-sadap-hp-rani-dan-nasruddin
Selasa, 1 Desember 2009 - 19:35 wib
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:40

Obrolan Antasari di Rumah Sigid Sengaja Direkam

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA - Pertemuan Antasari Azhar dengan Sigid Haryo Wibisono dan Wiliardi Wizar ternyata direkam. Hal ini sengaja dilakukan melalui alat perekam yang dipasang di rumah Sigid di Jalan Pati Unus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Hal ini diungkap pelayan Sigid, Karno saat bersaksi untuk terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (26/11/2009). Karno mengaku diminta pengawal Sigid bernama Setyo Wahyudi untuk memasang alat perekam.

"Saya disuruh Pak Yudi untuk pasang alat perekam. Waktu itu saya hanya mengaktifkan alat perekam itu sebelum Pak Antasari datang," ujarnya di depan majelis hakim.

Menurut dia, alat perekam itu diletakkan sebelah kanan di persis di bawah meja kerja Sigid. "Tujuannya untuk menyadap pembicaraan Antasari," sambungnya.

Dalam perkara ini Antasari didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Jaksa menduga pembunuhan ini dilakukan berkaitan dengan cinta segitiga di antara Antasari, Nasrudin, dan Rani Juliani.

Selain Antasari, kasus ini juga menyeret Kombes Pol Wiliardi Wizar, Sigid Haryo Wibisono, dan Jerry Hermawan Lo. Dalam kaitan ini, Williardi diduga bertindak mencari eksekutor, Sigit sebagai penyandang dana, sementara Jerry bertugas mencari eksekutor penembak Nasrudin. (frd)

(hri)

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2009/11/26/339/279368/obrolan-antasari-di-rumah-sigid-sengaja-direkam
Kamis, 26 November 2009 - 11:32 wib
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:42

Terima Wanita Cantik Kok di Kamar Hotel?

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA (Pos Kota) – Antasari Azhar mengaku mengenal wanita bernama Rani Juliani, ketika dia bersangkutan main golf di Modern Land, Tangerang, tahun 2006.

“Tapi itu bukan menjadi cady saya.Dua tahun kemudian setelah saya menjadi Ketua KPK, baru ketemu lagi di Hotel Mahakam, Jakarta Selatan.” tuturnya dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen Iskandar, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/12).

Pertemuan dengan Rani berikutnya, terjadi awal Mei 2008 di Hotel Mahakam. Saat itu, Rani menawarkan Antasari seputar marketing golf.

Pembicaraan Rani dengan dirinya tidak lama. Karena akan ada tamu yang datang lagi, maka Antasari mempersilakan Rani untuk pulang.

“Ketika Rani mau pulang, tak lama kemudian korban Nasrudin langsung datang di kamar hotel tersebut.” katanya sambil mengatakan Nasrudin tampak marah sama Rani.

Menurut Antasari, dia baru mengetahui kalau Rani adalah istri Nasrudin.

Saat ditanya hakim anggota kenapa saat menerima Rani di kamar hotel. Rani kan wanita cantik, kenapa tidak diterima di lobby hotel saja? “Saya positif thinking saja, Pak Hakim. Saya tidak ada niat jelek atas kehadiran Rani. Lagipula pintu juga tidak saya kunci.” jelas Antasari.

Antasari mengaku tidak pernah memberikan uang transport untuk Rani,”Tapi kami memberikan uang sebesar Rp2 juta pada Nasrudin untuk biaya berobat ibu korban di luar negeri, iya, Pak Hakim.” katanya sambil menambahkan dirinya tidak tahu kalau Nasrudin menjabat sebagai direktur di salah satu perusahaan.

Sesudah kejadian tersebut di hotel Mahakam, sekitar awal Novemper 2008, korban Nasrudin pernah mengirim pesan pendek atau SMS yang isinya menanyakan tentang hal yang tidak baik terhadap istrinya, Rani Juliani? Antasari menjawabnya,”Astagfirullah Pak Nas. saya tidak melakukan itu.” katanya.

Menurut Antasari, Nasrudin pernah akan mengancamnya untuk melaporkan ke DPR dan membuka ke pers. “Itu hanya lisan saja. Tapi, begitu yang bersangkutan datang ke kantor saksi, persoalan itu selesaim,” ujarnya. (Winarno/B)

Sumber:
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/10/terima-wanita-cantik-kok-di-kamar-hotel
Kamis, 10 Desember 2009 - 13:02 WIB
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:44

Mun'in Saat Jadi Saksi Untuk Antasari :

Mayat Nasrudin Dimanipulasi


alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA (Pos Kota)- Ahli Forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo, dr. Abdul Munin Idris mengatakan saat memeriksa mayat Nasrudin sudah tidak asli atau sudah dimanipulasi. “Itu mayat sudah pernah ditangani dokter lain,” jelasnya sambil menambahkan mayat korban sudah dijahit di kulit pelipis kirinya dan rambutnya sudah digunting.

Pernyataan Mun’in tersebut disampaikan ketika didengar keterangannya jadi saksi ahli untuk terdakwa Antasari Azhari pada sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zukarnaen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Masih menurut Mun’in akibat mayat korban sudah dikutak-katik, dirinya tidak bisa menentukan kapan terjadinya kematian dan yang paling penting berkaitan dengan alibi tersangkanya.

Selain itu saat yang bersangkutan membuat berita acara hasil pemeriksaan tersebut, ahli mengaku pernah ditelepon oleh seseorang untuk menghilangkan huruf . Muni’n menilai permintaan itu terlalu berani.

Hanya saja karena ini masih menjadi kewenangannya, dirinya tidak mau mengubahnya. “Saya nggak mau mengubahnya dan peluru yang digunakan untuk menembak korban diukur besarnya 9 mm,” tegasnya sambil menyatakan korban ditembak bukan dari jarak dekat.

Ahli forensik ini mengakui dirinya tidak pernah memeriksa korban di tempat kejadian perkara atau TKP. Dia memeriksa korban Nasrudin di RSCM pada Minggu sore.

Menurut dia, kalau korban ditembak jarak dekat sekitar 50 hingga 60 Cm, butir mesiunya akan menempel di baju korban. “Saya saat memeriksa jasad korban tak melihat adanya butir-butir mesiu yang menempel dibajunya,” imbuhnya.

“Pak Hakim siapa yang membayar saya di sini. Kalau saya tidak dibayar, saya tidak akan datang lagi menjadi saksi,” ujar Munin. Atas pertanyaan itu, Hakim Ketua Herri Swantoro supaya menanyakan jaksa penuntut umum. “Pak jaksa siap-siap ditagih oleh Pak dokter. Wah ini saksi ahli bayaran,” cetusnya dan disambut ger para pengunjung sidang. (winarno/B)

Sumber:
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/10/mayat-nasrudin-dimanipulasi
Kamis, 10 Desember 2009 - 15:32 WIB
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:45

Polisi Tetap Yakin Nasrudin Ditembak Dari Jarak Dekat

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs. Boy Rafly menjelaskan polisi tetap yakin Nasrudin ditembak dari jarak dekat.

Hal ini dtegaskan Kombes Boy Rafly menanggapi keterangan ahli forensik dr Munim Idris yang menyatakan Nasrudin ditembak dari jarak jauh.

Menurut Boy, yang dimaksud dengan jarak jauh itu jaraknya 60 cm sampai 90 cm sedang jarak dekat kategorinya 25 sampai 50 cm. Ini ada dalam BAP nya. Dan ini sesuai data lapangan saat dilakukan rekontruksi di TKP lapangan Golf Modern Land, tegas Boy.

Diakui oleh Boy, sebelum korban diotopsi, korban lebih dahulu dibawa ke RS Mayapada Tangerang dan RS Gatot Subroto dengan harapan korban masih bisa hidup. “Oleh karena itulah diduga adanya kerusakan dalam luka tembakan karena sudah mendapat bantuan tim medis lainnya sebelum diotopsi, “terang Kabid Humas Polda Metro itu.

Seperti diberitakans ebelumnya dalam sidang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Aszhar, ahli forensik RSCM Dr. Mun’im Idris mengungkapkan mayat Nasrudin yang divisumnya sudah tidak asli atau telah “dimanipulasi” oleh dokter lain. Dari sifat luka, penembakan dilakukan dari jarak jauh.

“Mayat sudah dimanipulasi, ini karena korban sebagian besar rambutnya sudah dicukur, lukanya sudah dijahit dan posisi sudah telanjang saat akan saya visum,” ujar Mun’im dalam persidangan pembunuhan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis.

Menurut Mun’im, peluru di bagian tubuh sudah penyok namun bisa dikenali tipenya. Sedangkan penembakan terjadi dalam jarak jauh.

Mun’im mengakui dirinya tidak pernah memeriksa korban di tempat kejadian perkara atau TKP. Menurut dia, kalau korban ditembak jarak dekat sekitar 50 hingga 60 Cm, butir mesiunya akan menempel di baju korban. “Saya saat memeriksa jasad korban tak melihat adanya butir-butir mesiu yang menempel di bajunya,” jelasnya.

Dilanjutkan oleh Mun’im, biasanya pihaknya yang menggunting baju mayat. “Jadi mayatnya sudah tidak asli, sudah ada tangan-tangan yang menangani sebelumnya,” jelasnya.

Akibat mayat korban sudah diutak-atik, menurut ahli forensik ini, dirinya tidak bisa menentukan kapan terjadinya kematian dan yang paling penting berkaitan dengan alibi tersangkanya. (edi/B)

Sumber:
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/11/polisi-tetap-yakin-nasrudin-ditembak-dari-jarak-dekat
Jumat, 11 Desember 2009 - 13:07 WIB
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:47

Sidang Pembunuhan Nasrudin

Mun'im: Peluru Sempat Terhalang Benda Lain


alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA - Saksi ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Mun' im Idris memastikan bahwa peluru yang bersarang di kepala Direkur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen sempat terhalang benda lain, sebelum mengenai kepalanya.

"Peluru dipastikan membentur benda lainnya dulu, karena lubang di kepala (korban) tidak beraturan. Dan ukuran kerusakan di luar lebih kecil daripada yang di dalam," ujar Mun'im dalam persidangan Williardi Wizar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (17/12/2009).

Mengenai jarak tembakan, pengakuan Mun'im sama dengan kesaksiannya di sidang Antasari Kamis lalu. Muniim menyebut Nasrudin ditembak dari jarak jauh yakni lebih dari 60 centimeter.

"Dari ciri-ciri berdasarkan luka tembak, itu dari jarak jauh. Kalau dari jarak dekat pasti ada mesiu yang berbentuk bintik-bintik dan luka bagus (tidak berantakan)" jelasnya.

Setelah tertembak, dokter forensik senior itu juga memastikan bahwa Nasrudin tidak meninggal seketika akibat tembakan yang mengenai pelipis serta satu lagi yang ditemukan di jaringan otak korban.

"Dipastikan setelah tertembak, korban belum mati. Karena tidak langsung mengenai batang otak. Yang kena hanya jaringan otak dan yang di pelipis kanan sempat terhalang tulang pelipis, jadi belum tembus," ungkapnya.

Salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Santraman, sempat mempertanyakan pernyataan Mun'im yang menyebut Nasrudin sebagai korban pembunuhan berencana. "Dari mana saudara tahu itu pembunuhan berencana," tanya Santraman.

"Itu sesuai dengan keterangan penyidik bernama Sarakih. Mayat itu ditembak oleh dua orang yang tidak disebutkan namanya," jawab Mun'im. (ded)

(mbs)

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2009/12/17/339/286055/339/mun-im-peluru-sempat-terhalang-benda-lain
Kamis, 17 Desember 2009 - 15:30 wib
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:49

Ahli Balistik Benarkan Kesaksian Mun'im Soal Senjata



JAKARTA - Saksi ahli balistik Puslabfor Bareskrim Polri, Marli Simanjuntak membenarkan pernyataan ahli forensik dari RS Cipto Mangunkusumo Abdul Mun'im Idris, saat bersaksi untuk terdakwa Antasari Azhar beberapa waktu lalu.

Menurut Marli, senjata yang digunakan untuk menghabisi nyawa Nasrudin Zulkarnaen adalah senjata Revolver 38 tipe SNW, edisi special. Untuk pelurunya merupakan peluru 38 inci yang juga spesial dari Amerika.

Demikian dikatakan Marli saat bersaksi untuk terdakwa Williardi Wizar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (17/11/2009).

"Sesuai dengan data basic di kantor, senjata revolver ada dua yaitu senjata organik dan nonorganik. Organik itu biasanya dipakai oleh aparat Indonesia seperti Polri, dan nonorganik itu permintaan pejabat atau pengusaha. Senjata yang diteliti ini senjata organik," jelasnya.

Marli menambahkan, peluru ditembakkan dari jarak jauh yaitu sekira 60 sentimeter. Sedangkan jarak dekat, lanjutnya, yakni sekira 15 cm atau 20 cm atau 39 cm.

"Hal ini sesuai dengan apa yang saya teliti waktu di Brimob Kelapa Dua, berdasarkan sidik senjata yaitu guratan yang ada di peluru ketika ditembakkan ke target," tandasnya.

Sementara mengenai proyektil, dia membantah keterangan Mun'im yang mengatakan bahwa berdasarkan lubang luka pada kepala Nasrudin disimpulkan proyektil 9 inci. Menurutnya, peluru yang digunakan yaitu 38 inci, sesuai senjata Revolver 38.

"Setiap senjata yang diproduksi pasti akan diproduksi pula pelurunya. Kalau senjatanya kaliber 38 pasti pelurunya juga 38. Jadi kalau 9 inci itu tidak cocok, dimasukkan juga tidak tepat," pungkas Marli.

(lsi)

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2009/12/17/339/285953/339/ahli-balistik-benarkan-kesaksian-mun-im-soal-senjata
Kamis, 17 Desember 2009 - 11:46 wib
Kembali Ke Atas Go down
Administrator
Administrator
Administrator


Male
Banyak Pemposan: 383
Poin: 4140
Reputasi: 7
Sejak: 02.12.07
Predikat:
  • Alumnus
Angkatan Tahun: SATGASMA 1976—1982
Fakultas: FMIPA
Profesi | Pekerjaan: IT Consultant
Lokasi Domisili: Parung. Bogor | Sawangan. Depok
Slogan: Tiap sesuatu adalah unik

PostSubyek: Re: KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin   4/1/2010, 07:52

Kuasa Hukum Williardi Ngotot Tanyakan Selongsong

alumni menwa ui, ex menwa ui, resimen mahasiswa universitas indonesia

JAKARTA - Senjata apa yang digunakan eksekutor pembunuh Nasrudin Zulkarnaen masih menjadi perdebatan. Herman, salah satu penasihat hukum Williardi Wizar menanyakan soal selongsong peluru yang ditemukan di jok mobil Nasrudin.

Selongsong itu ditemukan tim identifikasi di jok belakang mobil BMW yang dinaiki Nasrudin saat pembunuhan terjadi usai dirinya bermain golf pada 14 Maret 2009.

Pernyataan itu dibantah oleh ahli balistik M Simanjuntak yang hadir sebagai saksi di sidang Williardi Wizar di PN Jakarta Selatan, Kamis (17/12/2009).

Menurut M Simajuntak, Revolver sebagai senjata yang disebut digunakan untuk membunuh Nasrudin, memiliki karakteristik tidak meninggalkan selongsong.

"Selongsong tertinggal di silinder senjata," kata Maruli.

Dia menambahkan, yang meninggalkan selongsong adalah senjata jenis pistol, bukan Revolver.

Herman tidak puas dengan jawaban itu dan dia kembali menanyakan, "Kalau begitu dari mana selongsongnya?"

Ditanya seperti itu, M Simanjuntak kembali mengulang jawabannya, bahwa Revolver tidak meninggalkan selongsong. Senjata yang digunakan menembak Nasrudin, kata dia memuat enam peluru, dua sudah ditembakan dan empat masih aktif.

Sementara itu JPU Bambang S membantah pernyataan Herman bahwa, tim identifikasi mendapati selongsong peluru di jok mobil Nasrudin. "Barang bukti tidak ada selongsong," katanya.

(fit)

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2009/12/17/339/285966/339/kuasa-hukum-williardi-ngotot-tanyakan-selongsong
Kamis, 17 Desember 2009 - 12:10 wib
Kembali Ke Atas Go down
 

KASUS: Mengungkap Skrenario Di Balik Kasus Antasari - Rani - Nasruddin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 3Pilih halaman : 1, 2, 3  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FORKOM EKS MENWA UI :: FORUM BEBAS :: Wawasan Pemandangan :: Sosial - Politik - Ekonomi - Hukum dan Kriminalitas-